Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

sutradarakacangan by fajarnugros

Blog EntrySep 23, '07 9:17 AM
for everyone

18 September lalu, akhirnya saya pulang ke Jogja. Pukul dua dini hari saya melaju menuruni Jembatan Layang pertama di kota Jogja, menyusuri Jalan DR Sutomo kearah Selatan. Dan, seperti biasa, sejak kecil dulu hingga sekarang. Sejak saya mengayuh sepeda BMX, hingga Federal sampai kini hanya menekan pedal gas Honda Silver. Saya selalu menoleh ke arah itu. Ke papan-papan besar tempat lukisan-lukisan kain poster-poster film dipasang di halaman depan bioskop terbesar di Jogja itu. Dan malam itu, terkejut saya, benar-benar terkejut, papan-papan itu kosong melompong! Tak ada poster film menempel disana!

Penasaran, saya menunggu pagi. Usai sahur, tak lagi tidur, menunggu koran pagi diantarkan sang loper. Saya buka lembar demi lembar, dan memang tak ada lagi iklan film satu kolom di surat kabar itu. Bioskop Mataram, kini benar-benar menggulung layarnya.

Sejak kecil, saya menonton di bioskop itu, dengan menyusuri rel kereta api di belakang rumah, bersandal jepit, saya menonton film-film sendirian. Film yang masih saya ingat kala itu adalah The Last of The Mohicans. Dan, terakhir bapak mengajak kami menonton bersama satu keluarga adalah saat bioskop itu memutar Jurassic Park. Saya juga pernah menangis di bioskop itu ketika saat bertengkar dengan bapak, saya kemudian pergi dan menonton Mengejar Matahari. Kaca loketnya sempat pecah ketika penonton Ada Apa Dengan Cinta? berdesakan, dan saya serta teman-teman duduk lesehan di tangga-tangganya. Padahal, bioskop itu berkapasitas 650 seat.

Saya mengenal Deni, lelaki itu bekerja di Bioskop Mataram sejak lulus SMA. Mata kanannya buta karena terkena ketapel akibat kenakalannya sendiri. Di Bioskop itu, Deni bekerja serabutan, membukakan pintu-pintu teater saat film hendak diputar, membersihkan sampah-sampah sisa makanan penonton, serta mengepel lantai lobi. Deni juga yang bertanggungjawab menaik dan turunkan kain-kain poster film di halaman depan.

Tanggal 19 itu, selama syuting film Dagadu, saya bertanya pada teman-teman, adakah yang tahu kalau bioskop itu sudah tutup buku? Tak ada yang merespon dengan kepedulian. Hanya Julia, mahasiswi Fisipol UGM berwarganegara Norwegia yang menjawab pertanyaan saya, "Kira-kira sudah tiga minggu bioskop itu tutup, Fajar," katanya dengan bahasa Indonesia beraksen bule.

Sore tadi saya cari Deni di bioskop itu, tukang parkir rumah makan Cak Koting yang saya temui sembari berbuka puasa menyatakan, bioskop itu sudah tutup sejak dua minggu yang lalu. Tak ada kabar apapun sebelumnya, bioskop itu masih memutar film Genderuwo. Lalu tiba-tiba direksinya yang berkedudukan di Semarang datang dan menyatakan bahwa bioskop itu tak mampu lagi membiayai operasionalnya.

Lalu saya melihat Deni, berbalut jaket kulit hitam, dengan mata kiri merah dia tersenyum kearah saya. Ucapan pertamanya adalah kata 'maaf'. Dia meminta maaf karena lupa mengabari saya saat bioskop itu tutup. Dulu sekali, saya berpesan kepadanya, jika ada tanda-tanda bioskop itu akan tutup, tolong bertahu saya, saya akan mendokumentasikannya menjadi sebuah film dokumenter. Tapi, Deni lupa memberi saya kabar. "Karena semuanya datang dengan tiba-tiba, seperti puting beliung tempo hari." ujar Deni.

Puting beliung itu datang sore hari, pada 18 Februari 2007 lalu. Angin kencang berputar-putar itu merobohkan papan kokoh tempat kain-kain poster film biasa ditempelkan di halaman bagian depan bioskop. Mungkin itulah tandanya, bioskop itu tak lama lagi akan menggulung layarnya. Kepala Bioskop itu, lelaki berumur 55 tahunan, bernama Mustofa. Dengan kepala sedikit botak dan berkacamata sangat besar. Saya mengenalnya sejak tahun 2003 lalu, ketika untuk kali pertama, saya memutar film independen saya berjudul Dilarang Mencium Di Malam Minggu.

Saya mendatangi pak Mustofa diruang kerjanya, dibelakang loket bioskop. Saya bilang, saya ingin memutar film saya di bioskopnya. Sebuah film independen berdurasi 70 menit. Saya beli jam kosong disela-sela pemutaran reguler bioskop itu. Dari jam 12 siang hingga jam 3 sore. Oleh Pak Mustofa, saya diminta membayar 1 juta perhari. Saya mengangguk setuju. Untungnya, film saya ditonton 1.500 an orang, dikalikan tiket seharga 5000 rupiah, maka tertutupilah biaya sewa bioskop itu. "Putar film disini lagi ya," pesan Pak Mustofa pada saya, "Hitung-hitung buat nambah pemasukan bagi karyawan." Saya mengangguk. Setahun kemudian, saya memutar film lagi di bioskop itu. Tapi harga sewanya naik, menjadi 1,5 juta. Ah, tak apalah, toh bukan saya yang bayar, kali ini, sponsor memberikan apa saja yang saya mau. Film itu, berjudul Sangat Laki-Laki. Ditonton oleh dua ribuan orang di bioskop itu.

Sejak Sangat Laki-Laki, saya menjadi semakin akrab dengan orang-orang di bioskop itu. Dnegan melihat coretan Mustofa di whitboard dalam ruang kantornya, saya akhirnya menjadi tahu, film-film apa saja yang akan di putar dilayarnya. Sesekali jika tak punya uang, saya menghabiskan malam minggu di samping mesin proyektornya yang berbunyi seperti kapal uap sambil menonton film dari kotak kecil didepan saya dan mengamati petugas proyektornya bekerja.  

Atau ketika pak Mustofa sedang pulang untuk makan siang, sementara film jam 3 sore akan segera diputar, saya biasa menelusup melewati ruang kerjanya, menuju pintu belakang yang menyambung ke dalam theater besar itu. Atau ketika Pak Mustofa tak ditempat, saya dipersilahkan Deni untuk mengobrak-abrik lemari besar di sudut ruangan kerjanya, mencari dan mengambil poster-poster film yang saya sukai!

Sampai akhirnya, setahun kemudian, saya memutar film saya lagi disana, kali ini, sebuah film dokumenter berjudul Jogja Needs A Hero. Saya bilang ke Pak Mustofa bahwa film saya kali ini adalah sebuah film dokumenter yang belum tentu disukai banyak orang, durasinya pun hanya 20 menit. Tapi Pak Mustofa nggak peduli, dia meminta 2 juta untuk sewa kali ini. Dan itu pun harus dibayar di depan. Pengalaman saya, tak ada satu pun sponsor yang mau mengeluarkan uang di depan. Pun dengan sponsor saya waktu itu. Akhirnya, saya merelakan motor teman saya Hasim di gadai ke Pegadaian terdekat di belakang bioskop itu.

Syukurnya, setelah keringat sebutir jagung menetes di kening Hasim karena motornya terancam tak dapat ditebus. Jogja Needs A Hero ditonton 2000 an orang. Padahal tikenya 10 ribuan!

Setelah berbuka puasa, dengan sebotol teh, Deni meminta rokok kepada saya. Kami merokok berdua didalam theater yang lampunya telah dia nyalakan saat masuk tadi. Layar bioskopnya masih ada, kursi-kursi merahnya masih terlihat kusam, sesekali memang terdengar suara tikus berkejaran. "Semua sudah dilelang mas, proyektornya pun sudah laku," kisah Deni. Lalu di mana pak Mustofa? tanya saya, Pada hari dimana bioskop ini dinyatakan tutup, Pak Mustofa datang seperti biasa. Bekerja seperti biasa, dengan harapan film-film horor Indonesia yang selalu diputarnya mampu kembali menyedot penonton datang. Tapi Jogja telah memiliki Studio Twenty One dengan lima layar yang selalu penuh di Ambarrukmo Plaza. Dan walau pun Twenty One tidak beriklan di suratkabar, calon penonton bisa mengakses jadwal film melalui sms khusus. Layar Bioskop Mataram pun tak mampu lagi terbentang lama.

Lalu, dimana Pak Mustofa?

Hari itu, cerita Deni, saat mendengar kabar bioskop yang dipimpinnya akan di tutup, Pak Mustofa langsung terserang stroke. Urat di lehernya mengejang dan dia diantar kerumah sakit. Saya menghembuskan asap rokok ke udara, diruang pengap dan panas theater itu. Mata saya menatap jauh ke layar putih yang membentang di depan, diatasnya tampak terpaku burung Garuda, wajahnya menoleh kekanan. Tak peduli...

 

  


ekkyij wrote on Sep 23, '07
wow, what a great story. sayang belum sempet didokumentasikan. mungkin lu bisa gabung ama ucu agustin, dia lagi cari2 bahan n mau bikin tentang penggusuran bioskop megaria alias metropole (tau deh sekarang gmn kabarnya berita itu). metropole itu sangat bersejarah dan sudah ada sejak jaman belanda. sayang sekali kalau digusur jadi mal, harusnya dilestarikan.
sutradarakacangan wrote on Sep 23, '07
jujur ky, saya mau nangis rasanya... semua tau saya akhirnya bisa memutar film di bioskop itu, tahun 2001 saya bilang ke darwin "Suatu hari, saya mau muter film disini."... tapi saya tak bisa menyelamatkan bioskopnya... bahkan Jogja tak peduli, tak ada satu pun berita tentang tutupnya bioskop Mataram itu... Semoga Allah membimbing kita semua...
ekkyij wrote on Sep 23, '07
amien. sayang sekali, memang...
asfi16 wrote on Sep 23, '07
beneran tutup apa mas ?
sedih juga sih...padahal salah satu tempat alternatif nonton film yang sangat terjangkau untuk ukuran kantong mahasiswa.
katanya bioskop permata (yang sering muterin film2 agak panas) juga mau tutup.
dilibas semuanya ama twenty siji.

hmmm
yuliadian wrote on Sep 23, '07
hiks.. kok ikutan sedih yah...
gmanapun walau memang jadi ga keurus, tempat itu punya kesan sendiri...
Add a Comment